Jumat, 16 Oktober 2015

Tekanan Fundamental Mereda, BI Mungkinkan Terapkan Kebijakan Moneter Longgar


Sejauh ini, Bank Indonesia (BI) menyatakan masih akan terus mewaspadai adanya risiko pasar keuangan global karena berbagai hal, antara lain terbatasnya pertumbuhan ekonomi Tiongkok, belum solidnya pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan rendahnya harga komoditas. BI melihat pemulihan ekonomi global cenderung terbatas sementara tekanan di pasar keuangan global sudah mulai mereda. Terbatasnya pemulihan ekonomi global tersebut terutama bersumber dari masih terbatasnya pertumbuhan ekonomi emerging markets, khususnya Tiongkok yang diperkirakan terus melambat.

Perlambatan ekonomi Tiongkok belakangan ini makin terlihat dari rilis kinerja ekonominya yang melaporkan hasil mengecewakan. Salah satunya adalah kinerja di sektor manufakturnya yang terpantau menurun disertai dengan aktivitas ekspor yang masih lemah. Sampai saat ini, semakin jelas terlihat bahwa kinerja industri manufaktur Tiongkok masih belum pulih sehingga banyak ekonom menilai langkah-langkah stimulus lanjutan oleh bank sentralnya sangat diperlukan untuk mencegah perlambatan tajam. (Lihat juga: Kinerja Manufaktur Tiongkok Versi Pemerintah Meradang)

Di sisi lain, BI melihat bahwa pertumbuhan ekonomi negara maju sedang membaik, meskipun masih belum cukup solid. Pasalnya, pemulihan ekonomi AS masih rentan, tercermin dari indikator ketenagakerjaan yang masih lemah. Melemahnya indikator ketenagakerjaan AS dan rilis minutes FOMC (hasil rapat dewan gubernur bank sentral AS) September 2015 cenderung dovish menguatkan kembali perkiraan penundaan kenaikan suku bunga The Fed pada tahun 2015 ini.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Eropa diperkirakan terus membaik, ditopang oleh kuatnya permintaan domestik dan sektor manufaktur yang ekspansif. Namun, pemulihan ekonomi global yang masih terbatas berdampak pada harga komoditas internasional yang masih terus menurun. Meski demikian, sejalan dengan keputusan The Fed yang secara pasti menunda kenaikan suku bunga acuannya di tahun ini, tekanan di pasar keuangan global pada awal Oktober 2015 mulai mereda. Namun, BI akan terus mencermati risiko global yang berpotensi mendorong tekanan pembalikan modal portfolio dari emerging markets, termasuk dari Indonesia.

Dengan berbagai pertimbangan atas risiko eksternal tersebut, seperti diketahui, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI kemarin, 15 Oktober 2015 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 7,50 persen, dengan suku bunga Deposit Facility 5,50 persen dan Lending Facility pada level 8,00 persen. Tidak hanya itu, BI juga optimis bahwa inflasi untuk keseluruhan tahun 2015 akan berada di bawah titik tengah sasaran 4 persen, sementara defisit transaksi berjalan diprakirakan lebih rendah dari prakiraan semula, atau sekitar 2 persen pada akhir 2015. (Lihat juga: Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga 7,5%)

Secara fundamental, BI melihat prospek pertumbuhan ekonomi akan membaik terutama didorong oleh meningkatnya belanja modal pemerintah, walaupun aktivitas perekonomian di sektor swasta masih berjalan relatif lambat. Tekanan terhadap stabilitas makro mulai mereda sehingga kedepan terdapat ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter. Namun demikian, mengingat masih tingginya risiko ketidakpastian global, maka pihaknya akan tetap berhati-hati dan mencermati risiko global di tengah perkembangan pasar keuangan global yang lebih kondusif.

Sejalan dengan hal tersebut, fokus kebijakan BI dalam jangka pendek tetap diarahkan pada langkah-langkah stabilisasi nilai tukar, memperkuat pengelolaan likuiditas Rupiah, serta memperkuat pengelolaan penawaran dan permintaan valuta asing. BI akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk memastikan tetap terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.


Stephanie Rebecca/VM/VBN/ Analyst at Vibiz Research Center
Edior: Asido Situmorang

Rabu, 01 Juli 2015

Rupiah Lanjutkan Pelemahan, Dollar AS Maju Kencang

Pada perdagangan hari Kamis pagi mata uang rupiah terpantau mengalami pergerakan yang cenderung melemah terhadap dollar AS (2/7). Rupiah mengalami penurunan sejak pembukaan perdagangan pagi tadi.
Hari ini indeks dollar kembali mengalami peningkatan yang signifikan sehingga mengakibatkan rupiah mengalami tekanan. Indeks mata uang negeri Paman Sam tersebut terangkat naik mencapai posisi tertinggi dalam empat sesi belakangan.
Dollar meningkat seiring dengan anjloknya nilai tukar euro. Yunani yang telah menyatakan kebangkrutan tidak dapat membayar cicilan utang senilai 1,6 miliar euro kepada IMF yang jatuh tempo hari Selasa lalu. Kekhawatiran mengakibatkan para investor membuang aset berisiko termasuk rupiah.
Hari ini rupiah sempat dibuka pada posisi 13.340 per dollar. Rupiah melemah sebesar 15 poin dibandingkan dengan penutupan perdagangan kemarin.
Saat ini nilai tukar rupiah masih bertahan di teritori negatif. Rupiah berada di level 13.337 per dollar, melemah tipis sebesar 12 poin atau setara dengan 0,09 persen.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada perdagangan hari ini berpotensi untuk bertahan di teritori negatif. Tekanan jual yang dihadapi sangat kuat seiring dengan momentum kenaikan yang kembali dialami oleh dollar AS.
Mata uang rupiah hari ini berpotensi mengetes level support pada posisi 13.380 dan 13.450 per dollar AS pada perdagangan hari ini. Sedangkan level resistance harian yang akan dites ada pada 13.300 dan 13.250 per dollar.

Kinerja Manufaktur Inggris Masih Lanjutkan Ekspansi Meski Pada Fase Terlemah

Sektor manufaktur Inggris pada periode Juni 2015 lalu kabarnya masih melanjutkan fase ekspansinya yang secara bulanan telah memasuki bulan ke-27 berturut-turut. Meski masih melanjutkan fase ekspansi nampaknya angka pertumbuhan skornya sedikit mereda di bulan tersebut bahkan menyentuh level terendahnya dalam kurun 26 bulan terakhir. Merosotnya skor kinerja manufaktur Inggris ini disinyalir terjadi karena pertumbuhan produksi industri dan jumlah pesanan baru yang datang sedikit menurun.
Berdasarkan adat yang dirilis Rabu (1/7) PMI manufaktur Inggris periode Juni 2015 turun ke skor 51,4 dari sebesar 51,9 yang tercatat di bulan Mei. Skor PMI bulan Juni ini selain merupakan yang terlemah dalam kurun 26 bulan terakhir, ternyata juga dibawah ekspektasi ekonom yang sebelumnya memprediksi skor sebesar 52,5. Dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
United Kingdom Manufacturing PMI
Dakam survei tersebut juga tertulis bahwa rata-rata pertumbuhan manufaktur Inggris di sepanjang kuartal kedua tahun ini adalah yang terlemah sejak kuartal pertama tahun 2013 silam. Tren pertumbuhan output industri dan jumlah pesanan baru di Inggris sepanjang kuartal kedua tahun ini adalah yang terlemah. Sementara itu menguatnya sterling juga diprediksi masih akan menghambat laju perdagangan ekspor ke depan, mengingat ketidakpastian krisis utang Yunani. 
Sementara itu, isu yang belakangan berkembang mengenai Inggris ialah potensi terjadinya British Exit atau Brexit. Seperti diketahu, 2 (dua) bank ternama di dunia yang berbasi di Inggris yaitu HSBC Holdings Plc. dan JPMorgan Chase & Co. misalnya, saat ini tengah berada dalam tahap pembicaraan untuk merelokasi sebagian unit bisnis di Inggris ke Luxemburg, seiring perusahaan mempertimbangkan potensi keluarnya Inggris dari Uni Eropa (EU). Aturan ketat yang diberlakukan Uni Eropa untuk kegiatan bisnis di luar kawasan euro cukup menjadi bahan pertimbangan bagi beberapa bank besar untuk melakukan relokasi. Dengan demikian jika Brexit terjadi maka bencana baru bagi ekonomi Inggris akan muncul.

Kamis, 17 April 2014

Training Effective Credit Report Writing


Salah satu komponen yang penting untuk memperlancar proses kredit adalah terlaksananya proses proposal yang professional dalam memorandum analisis kredit. Kelengkapan, keseragaman, serta kejelasan isi proposal kredit merupakan hal-hal yang utama perlu diperhatikan dalam pelaksanaan proses kredit. Sehingga dengan demikian, kemampuan untuk menulis laporan (report writing), khususnya proposal kredit, sangat dibutuhkan bagi karyawan bidang kredit termasuk para relationship manager. Tanpa itu, proses kredit akan berlangsung tidak efisien dan bahkan meningkatkan potensi risiko kredit karena banyaknya ketidakjelasan penulisan isi memorandum.

Informasi:
Risty 021-6336348 / 0852-10183960

Workshop Credit Qualitative Analysis


Program pelatihan Qualitative ini melengkapi pendekatan Financial Credit Analysis karena akan mencakup topik dan latihan metode analisis kualitatif secara komprehensif dan mengidentifikasi faktor-faktor eksternal dan internal yang dapat memberikan dampak positif atau negatif terhadap kinerja bisnis debitur.

Informasi:
Risty 021-6336348 / 0852-10183960


Workshop Credit Qualitative Analysis

http://vibizlearning.com/training/schedule/banking-credit/training-credit-qualitative-analysis1338 


Program pelatihan Qualitative ini melengkapi pendekatan Financial Credit Analysis karena akan mencakup topik dan latihan metode analisis kualitatif secara komprehensif dan mengidentifikasi faktor-faktor eksternal dan internal yang dapat memberikan dampak positif atau negatif terhadap kinerja bisnis debitur.

Informasi:
Risty 021-6336348 / 0852-10183960
www.vibizlearning.com 

Workshop Intermediate Credit Analysis

http://vibizlearning.com/schedule/banking-credit/training-intermediate-credit-analysis1337

Keahlian melaksanakan analisis kredit yang berkualitas baik dari level inisiasi maupun selama menjalankan