Rabu, 01 Juli 2015

Rupiah Lanjutkan Pelemahan, Dollar AS Maju Kencang

Pada perdagangan hari Kamis pagi mata uang rupiah terpantau mengalami pergerakan yang cenderung melemah terhadap dollar AS (2/7). Rupiah mengalami penurunan sejak pembukaan perdagangan pagi tadi.
Hari ini indeks dollar kembali mengalami peningkatan yang signifikan sehingga mengakibatkan rupiah mengalami tekanan. Indeks mata uang negeri Paman Sam tersebut terangkat naik mencapai posisi tertinggi dalam empat sesi belakangan.
Dollar meningkat seiring dengan anjloknya nilai tukar euro. Yunani yang telah menyatakan kebangkrutan tidak dapat membayar cicilan utang senilai 1,6 miliar euro kepada IMF yang jatuh tempo hari Selasa lalu. Kekhawatiran mengakibatkan para investor membuang aset berisiko termasuk rupiah.
Hari ini rupiah sempat dibuka pada posisi 13.340 per dollar. Rupiah melemah sebesar 15 poin dibandingkan dengan penutupan perdagangan kemarin.
Saat ini nilai tukar rupiah masih bertahan di teritori negatif. Rupiah berada di level 13.337 per dollar, melemah tipis sebesar 12 poin atau setara dengan 0,09 persen.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada perdagangan hari ini berpotensi untuk bertahan di teritori negatif. Tekanan jual yang dihadapi sangat kuat seiring dengan momentum kenaikan yang kembali dialami oleh dollar AS.
Mata uang rupiah hari ini berpotensi mengetes level support pada posisi 13.380 dan 13.450 per dollar AS pada perdagangan hari ini. Sedangkan level resistance harian yang akan dites ada pada 13.300 dan 13.250 per dollar.

Kinerja Manufaktur Inggris Masih Lanjutkan Ekspansi Meski Pada Fase Terlemah

Sektor manufaktur Inggris pada periode Juni 2015 lalu kabarnya masih melanjutkan fase ekspansinya yang secara bulanan telah memasuki bulan ke-27 berturut-turut. Meski masih melanjutkan fase ekspansi nampaknya angka pertumbuhan skornya sedikit mereda di bulan tersebut bahkan menyentuh level terendahnya dalam kurun 26 bulan terakhir. Merosotnya skor kinerja manufaktur Inggris ini disinyalir terjadi karena pertumbuhan produksi industri dan jumlah pesanan baru yang datang sedikit menurun.
Berdasarkan adat yang dirilis Rabu (1/7) PMI manufaktur Inggris periode Juni 2015 turun ke skor 51,4 dari sebesar 51,9 yang tercatat di bulan Mei. Skor PMI bulan Juni ini selain merupakan yang terlemah dalam kurun 26 bulan terakhir, ternyata juga dibawah ekspektasi ekonom yang sebelumnya memprediksi skor sebesar 52,5. Dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
United Kingdom Manufacturing PMI
Dakam survei tersebut juga tertulis bahwa rata-rata pertumbuhan manufaktur Inggris di sepanjang kuartal kedua tahun ini adalah yang terlemah sejak kuartal pertama tahun 2013 silam. Tren pertumbuhan output industri dan jumlah pesanan baru di Inggris sepanjang kuartal kedua tahun ini adalah yang terlemah. Sementara itu menguatnya sterling juga diprediksi masih akan menghambat laju perdagangan ekspor ke depan, mengingat ketidakpastian krisis utang Yunani. 
Sementara itu, isu yang belakangan berkembang mengenai Inggris ialah potensi terjadinya British Exit atau Brexit. Seperti diketahu, 2 (dua) bank ternama di dunia yang berbasi di Inggris yaitu HSBC Holdings Plc. dan JPMorgan Chase & Co. misalnya, saat ini tengah berada dalam tahap pembicaraan untuk merelokasi sebagian unit bisnis di Inggris ke Luxemburg, seiring perusahaan mempertimbangkan potensi keluarnya Inggris dari Uni Eropa (EU). Aturan ketat yang diberlakukan Uni Eropa untuk kegiatan bisnis di luar kawasan euro cukup menjadi bahan pertimbangan bagi beberapa bank besar untuk melakukan relokasi. Dengan demikian jika Brexit terjadi maka bencana baru bagi ekonomi Inggris akan muncul.